Sabtu, 13 November 2010

Arti Penting Angka 0

Angka 0 memiliki arti penting dalam ilmu hitung, serta dalam memaknai dan menilai banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Angka 0 yang dalam bahasa Inggris disebut zero berasal dari bahasa Arab “sifr” yang bermakna “kosong”, sehingga angka 0 seringkali diartikan sebagai ketiadaan, kekosongan dan kehampaan dalam diri dan kehidupan manusia. Menjadi tanda kekalahan dalam sebuah pertarungan atau pertandingan, dan sering dianggap sebagai lambang ketidakmampuan seseorang dalam menjalankan peran kehidupan. Meskipun demikian, angka 0 memiliki arti penting dalam mencapai kesempurnaan nilai sesuatu, serta bisa menjadi simbol kemenangan bagi penyucian jiwa.
Apa pentingnya angka 0 dalam ilmu hitung?
Secara historis, ditemukannya angka 0 pertama kali oleh Muhammad bin Ahmad merupakan sebuah hasil pemikiran mendalam untuk menjawab masalah penghitungan bilangan di masa itu. Menuliskan bilangan dalam jumlah besar, dengan menggunakan angka-angka yang demikian rumit seperti angka Romawi sangatlah sulit. Jumlah bilangan puluhan, ratusan hingga ribuan dalam angka Romawi masih bisa dituliskan dan dihafal bentuknya. Misalnya, X (10), XX (20), C (100), M (1.000). Namun, bila jumlah bilangan jutaan, milyaran, atau triliunan tentu sangat sulit menuliskannya dalam angka Romawi. Karena itu, penemuan angka 0 ini memiliki arti penting dalam penghitungan dan penulisan bilangan.
Pemikiran Muhammad bin Ahmad tersebut kemudian dilanjutkan oleh Muhammad bin Musa Al Kwarizmy, seorang tokoh penemu perhitungan Al Jabar yang menjadi dasar ilmu pasti, yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780 M. Dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tangent, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulus integral. Tabel ukur sudutnya (Tabel Sinus dan Tangent) menjadi rujukan tabel ukur sudut saat ini. Selain ahli matematika, ia juga ahli geografi, sejarah dan musik. Karya-karyanya di bidang matematika terdapat dalam Kitabul Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla. Hasil karya Al-Khwarizmi inilah yang kemudian menjadi rujukan dan mempengaruhi pemikiran para ilmuwan Eropa, seperti Jacob Florence, serta Leonardo Fibonacci yang kemudian lebih dikenal masyarakt dunia sebagai ahli matematika Al Jabar. Penemuan angka 0 ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dunia karena dengan angka 0 tersebut, kini kita dapat dengan mudah menuliskan jumlah bilangan dari yang terkecil hingga yang tertinggi dengan bantuan angka 0.

Filosofi Angka 0

Angka 0 memiliki arti filosofis dalam diri dan kehidupan kita. Pertama, ketika kita mengartikan angka 0 sebagai kelipatan, maka 0 berarti titik tolak untuk melipatgandakan kemampuan kita, serta hasil yang ingin kita capai dari proses upaya yang kita pilih dalam menyikapi dan melakukan sesuatu. Upaya atau cara yang salah bisa menghasilkan kesalahan atau melipatgandakan kerugian. Demikian pula sebaliknya, ketika upaya kita benar atau baik, maka hasilnya adalah kebaikan yang berlipat dan kita menemukan banyak kebenaran.
Kedua, dengan adanya angka 0, kita dapat mengenal nilai angka-angka lainnya. Angka 1 akan bernilai lebih besar jika diikuti angka 0 menjadi angka 10. Dalam skala 1-10, angka 10 merupakan nilai yang sempurna. Angka 0 membuat angka 1 lebih bernilai, dan angka 1 bisa membuat angka 0 ada nilainya, yaitu 0 satuan. Hal ini menunjukkan arti bahwa sesuatu memiliki manfaat, dan kebermanfaatan itu bisa dinilai ketika sesuatu tersebut mampu mengisi kekosongan dan menutupi kekurangan. Tanpa memahami kekurangan, kita tidak akan menggali dan mencari, serta memanfaatkan kelebihan kita untuk menutupi kekurangan tersebut. Tidak akan ada yang sempurna tanpa adanya yang tak sempurna. Nilai manfaat inilah yang menjadikan sesuatu bermakna dan penting dalam hidup kita hingga bisa menyirnakan kekosongan tersebut. Jika kita resapi dan kita hayati, fungsi dan nilai kehidupan kita terletak pada memberi manfaat. Kebermanfaatan atau kebergunaan kita dimulai untuk diri sendiri, keluarga, saudara, sahabat, masyarakat, bangsa dan negara serta agama kita. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”
Ketiga, angka 0 dalam sistem binary berarti tiada. Dalam filosofi agama, angka 0 bisa diartikan sebagai kembalinya diri terhadap penyucian jiwa dan ketulusan hati, sehingga 0 merupakan titik keikhlasan dan penyerahan, mengosongkan dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Keikhlasan ini menjadi dasar tumbuhnya upaya untuk menjaga hati dari penyakit hati, mengikhlaskan hati untuk memaafkan dan menerima kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam diri dan hidup kita, bahkan memahami kekurangan orang lain.

Arti angka 0 dalam kehidupan sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, angka nol memiliki arti dan peran penting dalam hubungan sosial kita, hubungan vertikal dan spiritual kita dengan Allah SWT, serta berperan banyak dalam perhitungan dan penghitungan nilai materi dan keadaan yang kita hadapi. Kita mungkin sering mendengar istilah “kembali ke titik nol” yang dapat menggambarkan sebuah kondisi keterpurukan, musibah hingga bentuk kepasrahan dan penyerahan atas kehendak terbaik Yang Maha Berkehendak. Hal ini memberikan makna bahwa titik nol tersebut merupakan awal atau bahkan hakikat hidup manusia yang sebenarnya, tidak memiliki apa-apa karena semua yang melekat pada dirinya hanyalah titipan semata-mata saat menjalankan peran kehidupannya. Dengan demikian, angka 0 memiliki arti dan berperan dalam meningkatkan kehidupan ruhani kita.
Pada moment tertentu, kita juga mungkin pernah mendengar kalimat “dimulai dari titik nol ya” Kalimat seperti ini begitu akrab selama bulan Suci Ramadlan dan masa Idul Fitri khususnya sebagai sebuah standar operasional prosedur Pertamina Pasti Pas. Berkaitan dengan hal ini, angka nol dapat kita artikan dan kita makani sebagai kembalinya hati kepada kesucian, memulai kembali hubungan yang terbuka, saling memaafkan dan berupaya untuk tidak saling menyakiti. Angka 0 memili esensi fitrah dan urgensi membuka maaf di hati, memperbaiki setiap kesalahan dengan sesuatu yang lebih berguna dalam mengelola hubungan interpersonal (sosial) dan intrapersonal kita. Tidak salah jika kita persepsikan Ramadlan dan Idul fitri sebagai momentum untuk menginsyafkan dan mengingatkan kita akan pentingnya mengembalikan kondisi hati dan jiwa kita kepada titik nol agar kita mampu memahami hidup dan hati kita secara utuh sebagai makhluk-Nya sepanjang waktu yang diberikan-Nya.
Dalam penghitungan sehari-hari, angka nol yang hadir berurutan merupakan sebuah kelipatan, bisa berlipat makin kecil atau makin besar. Misalnya, 0.1, 0.01, 0.001 dan seterusnya, semakin banyak angka 0 di depan angka yang diikutinya, maka semakin kecil nilainya. Sebaliknya, semakin banyak angka 0 mengikuti angka (1,2,3,4,5,6,7,8,9) di depannya baik tunggal maupun tidak, maka semakin tinggi nilainya. Misalnya, dalam sistem keuangan dan penilaian materi, angka 0 yang menempati 6 digit setelah angka 1 di depannya (1.000.000) tentu lebih besar nilainya daripada 1.000 atau 300.000. Hal ini menunjukkan arti bahwa angka 0 meskipun berarti kosong akan bernilai jika menyertai angka-angka lainnya dan membentuk sebuah kelipatan, baik kecil maupun besar.
Dengan adanya angka 0, kita akan memahami arti penting 1,2,3…, sehingga kita mampu menghargai, memahami, menyikapi kekurangan dan ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses kehidupan yang dalam kondisi tertentu memiliki kebergunaan dan kebermanfaatan dalam menjalani kehidupan kita. Semoga.

Diary, Menelusuri Lorong Sunyi Sebuah Hati

Seberapa besar pun kekuatan seseorang untuk sendiri, ia membutuhkan tempat berbagi. 

Tidak semua jiwa bisa terbuka kepada sesama yang bernyawa. Banyak pribadi yang terkunci di lorong tabir kesunyian dan hanya ingin menikmati sendiri. Untuk meredakan sepi, semua yang dialami tercurah dalam diary. Sebuah diary dapat menjadi tempat curahan hati.
Bagi sebagian orang, diary mungkin hanya sebuah buku yang memuat serangkaian catatan peristiwa yang dialami penulisnya. Sah-sah saja sih, jika memang yang dilihat hanya bentuk fisiknya. Namun, bagi yang suka menulisnya, diary memiliki kedekatan emosional dengan penulisnya. Mengapa? Karena hal-hal yang bersifat rahasia pun bisa ditulis dalam diary. Gak berlebihan kok, kalau orang merasa aman dan nyaman menuliskan segenap perasaan, harapan, keinginan dan semua hal yang dialaminya pada diary. Dijamin safety, asal gak ada yang kurang ajar baca-baca privasi orang. Makanya, umumnya diary itu disimpan di tempat yang paling aman oleh pemiliknya.
Tidak sedikit orang yang menganggap remeh menulis diary, dianggap buang-buang energi atau melankolis. Padahal, manfaatnya juga banyak lho. Pertama, kalau kita mau menelaah sejarah, banyak peristiwa sejarah yang terungkap lewat catatan-catatan pribadi para pelaku sejarah. Contohnya, Tulisan R. A. Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Tulisan ini, pada awalnya adalah sebuah catatan dan surat pribadi yang berisi curahan perasaanya tentang penindasan dan pengekangan hak-hak kaum perempuan saat itu, serta keinginannya untuk mengubah nasib kaum perempuan agar memperoleh hak yang sama dengan laki-laki, terutama masalah pendidikan. Di kemudian hari, tulisan ini justru menginspirasi banyak hati dan mampu mengubah cara pandang sebuah bangsa terhadap sosok kaum Hawa.
Kedua, menulis diary ternyata merupakan latihan menulis secara kronologis. Banyak yang sudah membuktikan bahwa orang yang suka menulis diary lebih lancar menulis, baik tulisan fiksi maupun non-fiksi. Bisa kita pahami sih, karena menulis diary itu ibarat melaporkan apa yang kita alami, kita anggap penting dan kita rasakan sehari-hari, sehingga ketika membuat tulisan lain susunan kata dan alur yang digunakan lebih runut dan kronologis.
Ketiga, diary merupakan ajang berekspresi sekaligus kebebasan berkarya. Tak perlu khawatir dinilai salah atau takut dicela karena semua yang tertuang adalah gambaran jiwa. Orang akan lebih jujur bercerita pada diary daripada sahabat atau keluarganya. Sebuah cerita hati tentang kesedihan, kebahagiaan, keinginan terpendam bahkan kemarahan tertuang tanpa batasan. Ketika menulis penuh kejujuran, tulisan itu bisa menjadi kekuatan untuk melepas beban yang menekan. Tulisan yang dihasilkan pun biasanya akan membuat penasaran. Mungkin sudah banyak yang pernah membaca buku-buku yang berasal dari catatan harian seseorang. Misalnya, Catatan Harian Lelaki Malam karangan Moammar Emka. Sebuah catatan pribadi kehidupan penulisnya yang dipublikasikan.  Alur ceritanya terasa sangat real, natural dan menarik karena memang isi cerita yang disuguhkan adalah perjalanan nyata hidupnya. Tidak salah jika kemudian para ahli psikologi menyatakan bahwa menulis diary bisa menjadi terapi emosi, alternatif penyembuhan trauma dan bisa menjadikan seseorang sukses karena seseorang bisa me-review, mengevaluasi dan memperbaiki kesalahanserta kekurangan dirinya melalui serangkaian catatan perjalanan hidup dalam diary.
Keempat, diary juga ternyata merupakan kumpulan diksi, gaya bahasa dan bentuk karya sastra. Gaya bahasa hiperbola misalnya, bisa dituliskan tanpa rekayasa ketika si penulis merasakan kesedihan atau kebahagiaan yang mendalam. Demikian pula dengan pilihan kata-kata yang digunakan penulisnya. Kadang-kadang, kita tertegun takjub ketika membaca diary kita sendiri. Ternyata kita bisa menulis, mengolah kata dan memainkan gaya bahasa sesuai dengan apa yang hati kita rasakan tanpa ditutup-tutupi. Jika kita menyadari itu, maka diary pun bisa menjadi ajang berlatih menulis, berbahasa atau bahkan membuat karya sastra.
Yang paling penting dari sebuah diary ialah bahwa kita sebagai penulisnya memiliki arti dan bisa mengenal lebih dekat diri kita sendiri. Kita tahu apa yang kita inginkan, kita mengerti apa yang membuat kita nyaman atau bete, kita paham seberapa besar upaya kita untuk membuat diri kita bahagia bahkan bisa menggambarkan pribadi orang lain sesuai pemahaman kita, dengan me-review diary kita. So, diary itu punya makna yang dalam sebagai buku kehidupan.